Kamis, 28 Februari 2013

KIsah Inspiratif : Hati-Hati Di Kursi Tertinggi by Gede Prama

Di kantor seorang sahabat yang cara kerjanya demikian mengagumkan dan hampir
sempurna, ada sebuah kejadian menarik yang layak jadi cerita menarik. Kendati
boss di perusahaan ini bekerja dengan cara demikian sempurna dan demikian
mengagumkan, ternyata sekretarisnya bekerja dengan cara sebaliknya. Ketika
dimintai tolong untuk mengetik, banyak yang salah ketik. Tatkala dimintai untuk kirim
fax dan e-mail salah. Demikian juga dengan pekerjaan lainnya: salah, salah dan
salah.
Heran dengan realita kontras ini, saya bertanya ke sekretaris tadi: berapa tahun ia
sudah bekerja untuk boss di atas? Ternyata ia sudah bekerja enam tahun. Tentu
saja saya heran, bagaimana orang dengan cara kerja demikian bisa bertahan enam
tahun di bawah boss yang hidup dan kerjanya demikian sempurna. Didorong oleh
keheranan inilah, maka saya bertanya lagi: "bagaimana Anda yang cara kerjanya
demikian mengecewakan bisa bertahan enam tahun di bawah atasan yang demikian
sempurna?" Ternyata sekretaris tadi punya jawaban: "tapi saya punya kelebihan Pak,
saya tidak bisa hamil".
Nah sebelum tertawa diklasifikasikan sebagai salah satu kegiatan teroris, sebaiknya
Anda tertawa sepuas-puasnya. Dan sahabat yang tidak bisa tertawa setelah
membaca lelucon di atas, saya hanya bisa minta maaf. Permohonan maaf secara
khusus juga saya tujukan pada sahabat-sahabat sekretaris. Cerita di atas hanya dan
hanya sekadar lelucon. Terlepas dari apakah Anda tertawa maupun tidak, kehidupan
orang-orang di kursi nomer satu adalah kehidupan yang senantiasa dikelilingi banyak
orang. Sekretaris hanya salah satu pihak yang ada di sekitar orang-orang nomer
satu.
Disamping dikelilingi bawahan, orang-orang nomer satu juga dikelilingi stress,
tantangan, masalah dan bukan tidak mungkin juga dihadang oleh kejatuhan. Dalam
pengandaian seorang rekan, kehidupan seorang CEO adalah kehidupan yang penuh
dengan perang. Ada perang melawan kemunduran, perang melawan ketidakjujuran,
perang melawan kekotoran, dan perang-perang lainnya. Dalam beberapa keadaan,
bahkan rela tumbang dari kekuasaan hanya untuk melindungi prinsip yang harus
dilindungi.
Oleh karena alasan itulah, maka bayaran untuk kursi nomer satu ini hampir selalu
paling mahal di tempat masing-masing. Di negara-negara maju, ada standar untuk ini.
Akan tetapi, di negara lain apa lagi di mana semuanya masih serba tertutup, orang
masih menentukan gaji CEO secara shadow boxing alias meraba-raba. Sehingga
jika ditanya berapa layaknya kursi tertinggi dihargai, hanya kebingungan dan
ketidakjelasan yang rajin berkunjung.
Membicarakan tingginya gaji orang teratas memang menarik. Apa lagi di zaman di
mana atribut-atribut luar demikian dihargai dan dikagumi. Akan tetapi, di tengah
kebingungan dan ketidakjelasan angka, mungkin ada manfaatnya untuk berpikir
agak lain. Di tingkatan ini, bisa jadi ada gunanya merenungkan apa yang pernah
ditulis Krishan Chopra (Ayah kandung Deepak Chopra) dalam The Mystery and
Magic of Love : "money and power will not save your soul, it will only boost your ego, which brings
misery in the long run". Dengan kata lain, harta dan tahta tidak akan menyelamatkan
jiwa Anda, ia hanya akan meningkatkan ego yang pada akhirnya menciptakan
penderitaan dalam jangka panjang.
Bagi pencinta-pencinta harta dan tahta, pendapat terakhir mungkin mudah
mengundang cibiran bibir. Bahkan curiga, kalau pendapat di atas hanya diyakini oleh
orang-orang yang "terpaksa" harus bersyukur dengan kegagalan dan keterbatasa
materi. Boleh saja ada yang berkeyakinan demikian. Dan izinkan saya bertutur
serangkaian kejadian yang pernah lewat di depan mata. Dalam sebuah resepsi
pernikahan, saya sempat terkejut melihat seorang bankir yang dulu amat berkuasa
ketika masih menjabat di sebuah bank yang amat berpengaruh, tiba-tiba datang ke
tempat pernikahan dengan cara dipapah. Wajahnya lesu, pucat, tidak berdaya. Yang
jelas, mengundang rasa kasihan tidak sedikit orang. Dan yang lebih menyentuh lagi,
tokoh yang biasa dikelilingi banyak orang di tempat ia berkuasa dulu, hanya ditemani
tukang papahnya ketika jamuan makan.
Sekarang bandingkan kehidupan terakhir dengan kehidupan orang yang bau
harumnya masih terasa jauh hari setelah badan kasarnya dijemput kematian.
Sebutlah tokoh pemusik John Lennon yang mengetuk hati jutaan manusia lewat lagu
Imagine. John Lennon memang tidak bisa menghadiri pesta pernikahan setelah
meninggal, tetapi hatinya dikunjungi banyak sekali manusia. Kalau benar pendapat
seorang sahabat pensiunan orang nomer satu sebuah bank mentereng, yang
mengatakan bahwa kualitas kepemimpinan sebenarnya terlihat ketika kita sudah
pensiun, mungkin inilah saatnya untuk kembali pada bahasa dasar kita : hati.
Bila banyak orang bertutur kalau hati bisa menghambat perjalanan menuju kursi
tertinggi, John Lennon tidaklah demikian. Kursi tertinggi (secara material maupun
non material) bisa diraih dan dipertahakan melalui nyanyian-nyanyian hati. Setidaktidaknya
itulah yang dituturkan oleh kehidupan orang-orang seperti John Lennon,
Konosuke Matsushita, Ibu Theresa, Mahatma Gandhi, Dalai Lama dan deretan
manusia sejenis. Saya tidak sedang merayu Anda, apa lagi memaksa. Hidup Anda
adalah pilihan Anda sendiri. Demikian juga dengan hidup saya. Yang jelas, Chao-
Hsiu Chen dalam The Bamboo Oracle pernah menulis : "A friendly heart creates happy
people. A happy heart creates lucky people". Dalam bahasa lain, hati juga sumber
keberuntungan dan kebahagiaan.







---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kami Siap Melayani Anda sebagai Inhouse Training Provider
Hubungi kami BF Institute – Your Success Solution
Inhouse and Public Training Division
(+62)  85640262068
kami siap proposal, eproposal ataupun presentasi
———————————————————————————————————————

Kunjungi Blog Kami

Kisah Inspiratif : Bubar Karena Besar By Gede Prama

Dulu, ketika saya masih duduk sebagai mahasiswa di fakultas ekonomi, dan sempat
dibombardir oleh ide-ide besar ala banyak ekonom seperti Keynes dan manusia
sejenis, tiba-tiba merasa diinteruspi pikirannya oleh E.F Schumacher melalui
karyanya yang berjudul "Kecil Itu Indah". Anda bayangkan, pikiran yang biasa diajak
untuk mempermainkan variable-variabel yang ditujukan untuk memperbaiki hal-hal
besar, tiba-tiba dibelokkan secara mendadak untuk mencermati sekumpulan hal
yang relatif "kecil".

KIsah Inspiratif : Biarkan Kedamaian Bicara by GEde Prama

Dalam jangka waktu yang amat lama, wacana publik kita ditandai oleh kekerasan
yang memperkuda kedamaian. Tidak hanya setelah republik ini merdeka, jauh
sebelumnyapun sejarah kita sudah ditandai oleh wajah- ajah kekerasan di sana-sini.
Di Jawa Barat sana, banyak orang yang tingkat penghormatannya lebih rendah di
bandingkan daerah Jawa lainnya terhadap nama Gajah Mada. Apa lagi yang ada di
balik ini semua kalau bukan sejarah kekerasan. Sejarah masa penjajahan apa lagi.

KIsah Inspiratif : Mumpung Masih Diberi Waktu by Gede Prama

Setiap mengakhiri sebuah tahun, semua orang dihadang oleh sebuah kenyataan
betapa cepatnya sang waktu berputar dan berlalu. Dan secara tiba-tiba, baru sadar
ketika ada sahabat atau kerabat yang dipanggil kematian. Di situ kita baru merenung,
kita masih diberi sisa waktu.

Rabu, 27 Februari 2013

Kisah Inspiratif : BI : Bantu Istri by GEde Prama

Salah seorang mantan direktur BI yang pernah sama-sama menjadi pembicara di
seminar yang diadakan Infobank, pernah mengejutkan saya. Pasalnya, beliau
mencantumkan jumlah isterinya ada dua dalam daftar riwayat hidup yang dibacakan
moderator, dan dibenarkan oleh yang bersangkutan di depan umum. Kontan saja
saya yang ada di sebelahnya, sejumlah wartawan yang hadir serta hadirin lainnya
bertanya penuh keheranan. 'Bagaimana mungkin seorang mantan pejabat teras BI
berani memiliki dua istri?', demikianlah kira-kira pertanyaanyang mengganjal di
kepala.

Kisah Inspiratif : Kota Keheningan Dan Kedamaian by Gede Prama

Agak berbeda dengan sejumlah orang yang marah kalau profesinya dijadikan
sumber tawa, saya kerap belajar banyak dari tawa dan canda. Karena ia kaya
inspirasi dan imajinasi. Di sebuah bar yang lagi sepi pengunjung, tiba-tiba saja ada
seorang laki-laki parlente memasuki bar sambil memesan minum. Heran dengan
penampilan pria yang amat parlente ini, penjaga bar bertanya tentang profesi dan
pekerjaan orang terakhir. Dengan mantap laki-laki dandy ini menyebut profesi
konsultan. Tentu saja penjaga bar mengerutkan alisnya sebagai tanda tidak tahu.
Maka bertanyalah ia : ‘Konsultan, mahluk apa itu ?’.

KIsah Inspiratif : Meraih Harta Dengan Cinta by Gede Prama

Tidak sedikit manusia sepanjang sejarah, dan mungkin sepanjang zaman, dihadang
pertanyaan mendasar: bisakah harta diraih melalui jalan-jalan cinta ? Pertanyaan ini
tidak saja menghadang Anda, sayapun dihadang pertanyaan serupa dulu. Tidak
sedikit manusia yang ragu, dan bahkan skeptis. Lebih menyedihkan lagi, ada yang
meletakkan harta dan cinta dalam posisi berseberangan. Bila mau harta, cinta harus
dikorbankan. Jika mau cinta, maka harta akan menjauh. Paling tidak, demikianlah
keyakinan banyak orang.

Kisah Inspiratif : Dengarlah Bunga Sedang Bicara by Gede Prama

Kesenangan dan hobi untuk memelihara taman, bagi saya adalah salah satu obat
kehidupan yang amat membantu. Hampir setiap pagi sebelum memulai kegiatan
setiap hari, saya menyempatkan diri untuk melihat dan memegang-megang pohon
dan bunga-bunga yang mekar di taman. Demikian juga di hampir setiap sore yang
melelahkan. Ada sejenis dahaga tertentu yang terobati setelah memandangi dan
memegang bunga atau pepohonan. Dalam kedalaman renungan tertentu, kadang
terasa ada bunga yang sedang mau ‘berbicara’ ke arah manusia.
Cobalah Anda perhatikan, setiap bunga mengenal siklus tumbuh, mekar, layu dan
kemudian mati. Mirip dengan api, setelah menyala, beberapa lama kemudian ia mati.
Semua ini menimbulkan pertanyaan, kemanakah perginya bunga dan api setelah ia
mati? Bunga memang lebih jelas, karena setelah layu ia jatuh ke tanah, untuk
memenuhi panggilan tugas dari sang Ibu untuk menjadi pupuk. Namun api, ia amat
misterius. Begitu mati, menghilang tidak ketahuan jejaknya.
Anda bebas menafsirkan semua ini. Dan bagi saya, bunga dan api sedang
‘membisikkan’ kebijakan yang amat berguna bagi kita manusia. Bunga –
sebagaimana juga kita – mengenal siklus lahir, tumbuh, layu dan kemudian mati. Ini
hukum besi yang berlaku bagi bunga maupun manusia yang manapun. Bedanya,
kalau bunga setelah mati selalu menunaikan tugas sebagai pupuk buat sang ‘Ibu’,
adakah kita manusia juga mewariskan ‘pupuk-pupuk’ yang menyuburkan?
Api juga ‘membisikkan’ sesuatu ke kita. Sebelum mati dan menghilang, ia senantiasa
memberikan sinar yang menerangi. Namun manusia, sudahkah kita hidup dengan
konsep-konsep menerangi? Inilah rangkaian renungan yang perlu kita endapkan dari
bunga dan api. Di titik ini, kerap saya merasa demikian bodoh dan tulinya. Baik
bunga dan api, sudah kita temukan sejak pertama kali mengenal dunia. Tetapi,
kenapa butuh waktu demikian lama untuk bisa ‘mendengarkan’ bisikan-bisikan
bunga dan api?
Mungkin benar keyakinan banyak orang tua, lebih baik terlambat dibandingkan tuli
sama sekali. Untuk itulah, saya sedang mengajak Anda untuk mempertajam
kepekaan pendengaran akan bisikan-bisikan bunga dan api. Bukan untuk menjadi
manusia aneh dan kemudian dicurigai gila. Melainkan, memetik indahnya bunga
melalui kebijakan yang dicoba untuk dikatakan ke kita manusia. Atau menikmati
terangnya api, lewat kearifan penerangan yang telah dihadirkan. Sebagaimana bau
harumnya bunga, serta terangnya sinar api, demikianlah wajah kehidupan orang
yang telinganya peka pada bisikan-bisikan bunga dan api.
Mari kita mulai dengan pesan bunga yang senantiasa mengakhiri hidupnya sebagai
pupuk. Lama saya sempat merenung tentang kearifan bunga. Tubuh kita memang
akan membusuk jadi pupuk setelah melewati kematian. Bedanya dengan bunga
yang hanya memiliki badan kasar, kita manusia memiliki jauh lebih banyak dari
badan kasar. Keteladanan, cinta, kasih sayang, doa, pengabdian hanyalah sebagian
dari pupuk-pupuk lain yang bernilai jauh lebih berguna dari sekadar badan kasar
yang membusuk. Kalau pembusukan badan kasar, dibatasi ruang dan waktu, pupukpupuk
manusia tadi bisa menembus ruang dan waktu.
Sebutlah nama-nama manusia yang telah tiada dan meninggalkan pupuk kehidupan
yang jauh lebih besar dari sekadar badan kasar yang membusuk. Dari Baharudin
Lopa, Mohammad Hatta, John Lennon sampai dengan Kahlil Gibran. Saya tidak tahu,
apakah mereka dulu mendengarkan bisikan bunga dan api. Yang jelas, rangkaian
pupuk kehidupan yang diwariskan mereka ke kita, memberi inspirasi dalam kurun
waktu dan bentangan ruang yang tidak terbatas.
Mirip dengan bunga yang mengharumi ketika mekar, api yang menyinari ketika
masih hidup, demikianlah inti-inti kebijakan yang mereka wariskan ke kita. Lebih dari
itu, setelah matipun mereka masih ‘mendengarkan’ bisikan bunga dan api. Pupukpupuknya
demikian menyuburkan. Dan berbeda dengan api yang sinarnya lenyap
ketika mati, mereka masih bersinar tatkala badan kasarnya sudah ditelan bumi.
Putera bungsu saya yang masih balita pernah bertanya, kemanakah bunga dan api
pergi ketika mereka sudah mati? Pertanyaan ini memang kedengaran innocent,
namun relevan untuk ditanyakan pada diri kita manusia. Anda bebas untuk percaya
atau tidak percaya, seorang hypnotherapist bernama Michael Newton pernah
melakukan eksperimen yang menarik. Sejumlah pasien yang dihipnotis dibawa oleh
Newton ke dalam rangkaian pengalaman jauh ke belakang. Dari pengalamannya
pernah meninggal di kehidupan sebelumnya, sampai dengan perjalanan-perjalanan
jiwa yang lain. Sebagaimana yang dia tulis dalam buku karyanya yang berjudul
Journey of Souls: Case Studies of Life Between Lives, diperlihatkan dengan metode
wawancara, bagaimana orang-orang dalam keadaan terhipnotis bisa bertutur tentang
perjalanan jiwa mereka yang amat unik dan berbeda.
Newton memang bukan seorang pakar agama dan hanya seorang terapis. Dia juga
mengakui menjaga jarak terhadap konsep reinkarnasi. Tetapi apa yang dia temukan,
memberikan sebuah pandangan, bahwa kita ini lebih dari sekadar gumpalangumpalan
daging yang riwayatnya tamat ketika kematian telah menjemput.
Saya tidak tahu, apakah bunga dan api riwayatnya tamat setelah mati. Namun
manusia sebagaimana dituturkan Newton, masih memiliki riwayat panjang setelah
beberapa kali dijemput kematian. Sekaligus memberikan bahan perenungan,
kemanakah kita sedang dan telah mengarahkan perjalanan jiwa ini?.
Bunga dan api memang diam selamanya – kalau kita menggunakan konsep
berbicara ala manusia. Namun, rangkaian renungan di atas, membuat saya terdiam
sejenak setiap kali melihat bunga dan api. Untuk kemudian, melalui kepekaankepekaan
mencoba membuka telinga hati yang kadang dibuat bersembunyi oleh
kehidupan masa kini.






---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kami Siap Melayani Anda sebagai Inhouse Training Provider
Hubungi kami BF Institute – Your Success Solution
Inhouse and Public Training Division
(+62)  85640262068
kami siap proposal, eproposal ataupun presentasi
———————————————————————————————————————

Kunjungi Blog Kami

KIsah Inspiratif : Jatuh Cinta Sebagai Kejadian Spiritual by Gede Prama

Setiap orang pernah jatuh cinta. Umumnya, jatuh cinta itu terjadi pada orang dengan
lawan jenis. Tidak ada satupun kata-kata yang bisa mewakili perasaan jatuh cinta.
Sebutlah kata senang, gembira, bahagia, bergetar, berdebar, takut kehilangan,
cemburu, ingin selalu bersama, semua terlihat bersinar dan menyenangkan, tetap
saja tidak bisa mewakili seluruh nuansa jatuh cinta.
Biasanya yang lama diingat orang melalui kejadian-kejadian jatuh cinta adalah
perasaan-perasaan yang ada di dalam. Memegang tangan pasangan saja membuat
jantung berdebar. Melihat matanya yang dibalut senyum bisa membuat terkenangkenang
selamanya. Kata-kata pertama yang menunjukkan lawan jenis kita tertarik
dan jatuh cinta pada kita, bisa menjadi satu rangkaian kalimat yang terdengar di
telinga setiap hari. Memperhatikan rambut, tata krama, cara berpakaian, cara bicara
lawan jenis kita, semuanya tampak pas dan sempurna. Dan pada akhirnya membuat
kita seperti memiliki dunia ini seorang diri.
Inilah rangkaian hal yang membuat cinta diidentikkan dengan perasaan (feeling).
Banyak sudah lagu, film, sinetron, novel, syair, puisi yang lahir dari sumber cinta
sebagai perasaan. Kalau kemudian banyak yang memberikan kesan cinta itu
cengeng, lemah, tangisan dan sejenisnya, itu hanyalah sepenggal pemahaman
tentang cinta sebagai perasaan.
Ada dimensi kedua dari cinta yang layak dicermati setelah cinta sebagai perasaan,
yakni cinta sebagai sebuah kekuatan (power). Coba perhatikan pengalaman jatuh
cinta kita masing-masing. Ada kekuatan maha dahsyat yang ada di dalam diri, yang
membuat badan dan jiwa ini demikian perkasanya. Seolah-olah disuruh
memindahkan gunungpun rasanya bisa. Hampir tidak ada penugasan dari lawan
jenis yang kita cintai yang tidak bisa diselesaikan. Mulut ini seperti dengan cepatnya
berteriak : bisa !
Bermula dari pemahaman seperti inilah maka Deepak Chopra dalam The Path To
Love, menyebut bahwa jatuh cinta adalah sebuah kejadian spiritual. Ia tidak sematamata
bertemunya dua hati yang cocok kemudian menghasilkan jantung yang
berdebar-debar. Ia adalah tanda-tanda hadirnya sebuah kekuatan yang dahsyat.
Persoalannya kemudian, untuk apa kekuatan dahsyat tadi dilakukan.
Kaum agamawan nan bijaksana menggunakan kekuatan terakhir sebagai sarana
untuk bertemu Tuhan. Usahawan yang berhasil menggunakan tenaga maha besar
ini untuk menekuni seluruh pekerjaannya. Ibu yang mencintai keluarganya
mengabdikan seluruh tenaganya untuk mencintai anak dan suaminya. Pekerja yang
menyadari kekuatan ini menggunakannya untuk bekerja mencari harta di jalan-jalan
cinta. Banyak orang yang dijemput keajaiban karena kemampuan untuk
membangkitkan tenaga maha dahsyat ini.
Anda bisa bayangkan, tentara Inggris yang demikian perkasa harus pergi dari India
karena kekuatan cinta Mahatma Gandhi beserta pejuang lainnya. Negeri ini
dideklarasikan secara amat gagah berani melalui cinta duet Sukarno-Hatta.
Demokrasi Amerika berutang amat banyak pada cinta George Washington. Raksasa
elektronika Matsushita Electric dibangun di atas tiang-tiang cinta Konosuke
Matsushita. Microsoft sampai sekarang masih dipangku oleh kecintaan manusia luar
biasa yang bernama Bill Gates. Sulit membayangkan bagaimana seorang Jenderal
besar Sudirman bisa memimpin pasukan melawan Belanda dengan badan yang
sakit-sakitan, kalau tanpa modal cinta yang mengagumkan. Wanita perkasa dengan
nama Kartini mengambil resiko yang demikian tinggi untuk mengangkat derajat
kaumnya, apa lagi yang ada di baliknya kalau bukan kekuatan-kekuatan cinta.
Boleh saja Anda menyebut rangkaian bukti ini sebagai serangkaian kebetulan, tetapi
saya lebih setuju dengan Deepak Chopra yang menyebut bahwa jatuh cinta adalah
sebuah kejadian spiritual. Dari sinilah sang kehidupan kemudian menarik kita tinggitinggi
ke rangkaian realita yang oleh pikiran biasa disebut luar biasa. Di bagian lain
bukunya, Chopra menulis: ‘merging with another person is an illusion, merging with
the Self is the supreme reality’. Bergabung dengan orang lain hanyalah sebuah ilusi,
tapi bergabung dengan sang Diri yang sejati, itulah sebuah realita yang maha utama.
Jatuh cinta sebagai kejadian spiritual, yang dituju adalah bergabungnya diri kita
dengan Diri yang sejati. Ada yang menyebut Diri sejati terakhir dengan sebutan
Tuhan, ada yang memberinya sebutan kebenaran, ada yang menyebutnya dengan
inner life, dan masih banyak lagi sebutan lainnya. Apapun nama dan sebutannya,
ketika Anda menemukannya, kata manapun tidak bisa mewakilinya. Yang ada hanya:
ahhhhh!
Serupa dengan pengalaman jatuh cinta ketika kita masih muda, di mana semua
unsur badan dan jiwa ini demikian kuat dan perkasanya, demikian juga dengan jatuh
cinta sebagai kejadian spiritual. Ia mendamaikan, menggembirakan, mencerahkan,
mengagumkan dan menakjubkan. Dan yang paling penting, semuanya kelihatan
serba sempurna. Air sungai, daun di pohon, desir angin, suara ombak, wajah
pegunungan, demikian juga dengan pekerjaan, keluarga, atasan, bawahan. Seorang
sahabat yang kerap jatuh cinta seperti ini, pernah mengungkapkan, dalam keadaan
jatuh cinta, setiap lembar daun di pohon apapun terlihat seperti sehalaman buku suci
yang penuh inspirasi. Setiap hembusan angin adalah pelukan-pelukan tangan
kekasih yang amat menyentuh. Setiap suara air adalah nyanyian-nyanyian rindu
yang menyentuh kalbu. Anda tertarik?







---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kami Siap Melayani Anda sebagai Inhouse Training Provider
Hubungi kami BF Institute – Your Success Solution
Inhouse and Public Training Division
(+62)  85640262068
kami siap proposal, eproposal ataupun presentasi
———————————————————————————————————————

Kunjungi Blog Kami

Kisah Inspiratif : Masyarakat Pedagang Cendol by Gede Prama

'Mengejutkan', demikian status yang diberikan tajuk rencana Kompas tanggal 1
Agustus 1997 atas penjualan saham bank Niaga yang menjadi pembicaraan banyak
kalangan itu. Demikian ramainya orang yang membicarakan soal ini, seolah-olah
timbul kesan bahwa ini telah menjadi isu nasional. Melebar jauh dari sekadar isu
tentang sebuah keluarga pengusaha.

Kisah Inspiratif : Penyembuhan Dan Keajaiban by Gede Prama

Setiap kali ada keluarga atau sahabat yang datang ke rumah, ada saja yang
bertanya tentang arsitek yang mendisain rumah plus tamannya. Tentu saja saya
hanya bisa bingung, karena belum pernah menggunakan jasa satupun arsitek untuk
mendisain atau menata rumah. Yang ada hanyalah kesenangan saya untuk
mengutak-atik rumah ketika tidak ada kegiatan penting.

Kisah Inspiratif : Memaafkan Itu Menyembuhkan by Gede Prama

Kolam kebencian tidak bertepi, mungkin itu sebutan yang cocok untuk tahun 2001.
Ada kebencian terhadap Amerika karena menyerang Afghanistan, ada kebencian
terhadap Osama karena dituduh menghancurkan gedung WTC New York, ada
kebencian terhadap pemerintah karena tidak menunjukkan kinerja yang meyakinkan,
ada kebencian terhadap DPR karena tidak habis-habisnya dilanda skandal, ada
kebencian terhadap suku atau agama lain karena terlibat perang dan kerusuhan, ada
kebencian terhadap pengusaha besar karena dicurigai mencuri uang negara, ada
kebencian terhadap oknum aparat yang tidak berhenti-berhenti korupsi, dan masih
banyak lagi daftar kebencian lainnya.

Kisah Inspiratif : Kealamian Ditemukan Dalam Diam by Gede Prama

Kesibukan kerja yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain, membuat saya
memiliki jadwal terbang yang cukup padat. Hampir setiap minggu saya terbang.
Beberapa pramugara dan pramugari Garuda bahkan mengenali saya karena terlalu
sering bertemu di pesawat. Bahkan, ada yang bercanda dan mengatakan kalau saya
ini laki-laki panggilan. Dan tentu saja mereka benar, karena saya teramat sering
dipanggil orang untuk urusan jadi pembicara publik dan konsultan. Namun, terlepas
dari godaan dan canda terakhir, ada sebuah kegiatan yang kerap saya lakukan kalau
sedang terbang: melihat dan mengamati awan.

KIsah Inspiratif : Sayap-Sayap Diri Sejati by Gede Prama

Kendati Max Weber sudah ratusan tahun yang lalu membahas soal karisma
kepemimpinan, dan memberikan beberapa sumber yang meyakinkan, toh tidak
semua orang yang tahu lantas bisa memillikinya. Ratusan artikel, tidak sedikit buku
yang sudah diterbitkan untuk urusan ini, namun toh masih saja ada misteri yang
tersisa.
Memang kedengaran tidak populer, kalau di tengah pencaharian-pencaharian dari
luar (legalitas, legitimitas, dan sejenisnya), kalau saya kemudian mengajak orang
untuk mencari sumber-sumber karisma di sini : di dalam diri kita sendiri. Meminjam
argumen salah seorang seniman besar India yang bernama Kabir, ‘Janganlah
datang ke taman, dalam tubuh kita sudah ada taman. Duduklah di atas pohon lotus,
dan temukan suka cita di sana’.
Ini berarti, ada banyak sekali sumber yang tersedia dalam diri ini. Akan tetapi, karena
berbagai faktor, sumber tadi hanya terbuang percuma, kemudian kita mencarinya di
luar. Sebutlah orang yang mencari kesenangan melalui harta dan wisata. Ia mirip
dengan memindahkan buih ombak ke rumah. Ketika buih itu kita ambil dengan
ember misalnya, ada rasa senang dan bangga, karena kita akan bisa memamerkan
buih ombak kepada keluarga dan kerabat di rumah. Namun, tatkala sudah sampai di
rumah, baru kita sadar yang tersisa hanya air biasa.
Dalam keheningan dan kejernihan, ingin saya bertutur ke Anda, sayapun pernah
lama terlibat dalam kegiatan ‘memindahkan buih ombak’. Tidak sepenuhnya sia-sia
tentunya, namun cukup memberi pelajaran, bukan hanya di luar sana tersedia
sumber-sumber kepemimpinan dan suka cita. Di dalam diripun, ada sumber-sumber
dalam jumlah tidak terbatas.
Ibarat sebuah pesawat terbang, tubuh dan jiwa ini sebenarnya sudah memiliki semua
komponen yang memungkinkan kita manusia bisa ‘terbang’ tinggi-tinggi. Cuman,
karena demikian banyak beban dan muatan tidak perlu yang kita bawa ke manamana,
maka jadilah kehidupan banyak orang seperti pesawat yang hanya parkir di
lapangan udara. Sebagian dari beban-beban tidak perlu tadi adalah rasa marah,
benci, dengki, ego, nafsu dan beban-beban sejenis. Sekilas tampak, kemarahan dan
kebencian memang bisa memuaskan diri kita dan memberatkan orang lain. Padahal
yang sering terjadi malah sebaliknya, ia lebih memberatkan diri kita sendiri.
Pernah dilakukan wawancara mendalam terhadap lima ratus orang yang pernah
terkena penyakit serangan jantung. Lebih dari delapan puluh persen responden,
memiliki ‘hobi’ marah-marah. Ada sahabat seorang penulis yang iseng-iseng
melakukan penelitian kepustakaan terhadap pemimpin-pemimpin besar yang
legendaris. Kebanyakan pemimpin-pemimpin jenis terakhir adalah kumpulan orangorang
yang penyabar, pemaaf dan amat rajin mendidik diri untuk senantiasa
mencintai orang lain. Makanya, tidak heran kalau seorang sahabat intelektual pernah
menyebutkan: ‘membalas kebencian dengan cinta dan kasih sayang adalah prestasi
tersulit dan tertinggi yang bisa dicapai manusia di atas bumi ini’. Ada yang bertanya,
bagaimana beban-beban tidak perlu ini bisa dibuang? Sayangnya saya bukan
psikolog, namun ada sahabat yang meyakini, bahwa kemarahan dan kebencian akan
semakin sering datang berkunjung kalau kita sering mengingat-ingatnya.
Ini baru berkaitan dengan pengurangan beban. Sama pentingnya dengan kegiatan
mengurangi beban-beban tidak perlu, pencaharian untuk menemukan diri sejati juga
sama perlunya. Pertanyaan dasar dan klisenya berbunyi: who am I ? Pohon memang
tidak akan pernah tahu, dari bibit apa ia terbuat. Kuda juga tidak terlalu peduli, dalam
keadaan bagaimana ibunya ketika ia berada dalam kandungan. Demikian juga
dengan kucing, asal muasal dan pengalaman masa lalu bukanlah sebuah perkara
yang layak untuk dicermati.
Tidak demikian halnya dengan manusia – lebih-lebih yang mau jadi pemimpin.
Pengenalan dan penghayatan terhadap ‘bahan-bahan’ diri kita adalah perkara besar
dalam hidup. Kondisi sang Ibu ketika kita di dalam kandungan, pengalaman masa
kecil, kejadian-kejadian ekstrim dalam hidup yang hadir sebagai sinyal-sinyal dari
sutradara kehidupan, alasan-alasan yang berada di balik tanjakan dan turunan
kehidupan. Semua ini adalah sumber-sumber informasi yang bisa membawa kita
pada pemahaman diri kita yang sejati. Sejumlah psikolog bahkan pernah
merekomendasikan untuk melakukan penelusuran lebih jauh: sampai tahapan
kehidupan kita sebelumnya.
Bacaan dan pengalaman hidup saya bertutur, pada titik di mana kita sudah
mengenali diri kita yang sejati, badan dan jiwa ini sudah dipenuhi oleh sayap-sayap
diri sejati yang siap membawa kita terbang tinggi-tinggi. Rezeki, jodoh, lahir dan mati
memang bukan wewenang manusia. Tetapi masih dalam wewenang kita untuk
mengisi hidup ini dengan penuh suka cita, memberi vitamin terhadap tubuh dan jiwa,
atau membiarkan sayap-sayap diri sejati tumbuh dengan lancarnya. Menjadi
konglomerat material memang masih wewenang Tuhan. Namun, kita bisa mencapai
prestasi sebagai konglomerat spiritual – dari mana semua wibawa, karisma, dan
keseganan orang lain berasal – kalau saja kita rajin berusaha menemukan bahanbahan
dari mana kita terbuat.
Kombinasi dari telah terbuangnya beban-beban tidak perlu, dengan ditemukannya
kesejatian diri inilah yang kerap disebut banyak pemikir sebagai sayap-sayap diri
sejati.







---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kami Siap Melayani Anda sebagai Inhouse Training Provider
Hubungi kami BF Institute – Your Success Solution
Inhouse and Public Training Division
(+62)  85640262068
kami siap proposal, eproposal ataupun presentasi
———————————————————————————————————————

Kunjungi Blog Kami